Senin, 23 April 2018

Hal-Hal yang Wajib Ada dalam Surat Perjanjian Bangun Rumah

Tujuan utama pembuatan surat perjanjian bangun rumah agar proses pengerjaan lebih terarah dan selesai tepat waktu. Penulisannya harus atas namamu sendiri. Tapi boleh diwakilkan pada notaris atau ahli kuasa lewat surat kuasa. Untuk memastikan isinya sesuai dengan harapanmu, minimal hal-hal ini wajib ada dalam surat perjanjian tersebut.

Surat Perjanjian Bangun Rumah

Pernyataan Pihak Kedua Harus Menyelesaikan Pekerjaan
Kontraktor bangunan yang andal dengan mudah akan menyetujui hal tersebut. Pernyataan ini memiliki kekuatan yang sangat besar, andaikata pihak kontraktor terbukti lalai dan tidak menyelesaikan pekerjaan. Di samping itu, pikiran dan hatimu bisa lebih tenang karena sudah disetujui kedua belah pihak. Pengerjaan sampai selesai jadi bukti iktikad baik kontraktor.

Tugas Harus Jelas
Pihak kontraktor yang profesional sekalipun pasti menanyakan kejelasan tugasnya. Selama ini, kontraktor bangunan memiliki 2 tugas primer, yaitu membangun rumah seluruhnya atau renovasi. Penulisan yang keliru membuat pengerjaannya juga keliru. Pada hal ini, pihak yang bisa disalahkan adalah Pihak Pertama atau kamu. Jadi harus hati-hati.

Kontraktor Mampu Mengerjakan Material Sesuai Spesifikasinya
Tambahkan pula ketentuan ini. Biar tidak ada lagi penambahan material yang berarti. Dengan kata lain, kamu sudah siapkan materialnya dulu. Lebih bagus lagi kalau menyiapkan desainnya juga. Dengan begitu, proses pengerjaannya bisa lebih cepat dari target waktu yang ditentukan.

Kejelasan tentang Biaya Membangun Rumah
Poin ini wajib ada, terutama ketika kamu mau membangun rumah secara keseluruhan dari nol. Kontraktor profesional selalu menawarkan surat-surat kelengkapan rumah, semisal SHM, IMB, dan lain-lain. Semua dokumennya memerlukan biaya tambahan. Jadi harus jelas ketika mengisi surat perjanjiannya. Apakah termasuk dokumen atau tidak.

Tentukan Sistem Pembayarannya
Mengapa sistem pembayaran harus ditentukan? Biar transparan sehingga masing-masing pihak bisa memegang peran. Apabila pembayarannya secara tunai, tentukan, apakah mau dibayar di akhir atau di awal. Tapi lebih baik sih bayarnya pakai DP saja alias nyicil. Misalnya bayar setelah bangunan selesai 25%, lalu setelah 50%, 75%, dan 100%.

Tetapkan Durasi Pengerjaan serta Denda Bila Terlambat
Sikap profesional harus betul-betul kamu tunjukkan. Begitu pula untuk pihak kontraktor. Tanpa batas waktu, hampir dipastikan pekerjaan molor. Apalagi kalau kontraktor yang kamu pilih punya banyak pesanan baru. Kontraktor terbaik selalu menghargai ketepatan waktu. Sebaliknya, kontraktor buruk selalu buruk dalam tanggung jawab. Jadi harus ada denda.

Jalur-Jalur Pilihan saat Terjadi Perselisihan
Setiap kerja sama selalu memiliki risiko perselisihan. Walaupun mayoritas tidak begitu. Tapi tetap harus jaga-jaga dan ditulis dalam surat perjanjian. Bila memungkinkan, selesaikan secara kekeluargaan. Kalau masalah lebih serius, pakai panitia arbitrase sebagai penengah. Kalau tidak mempan juga, pakai jalur hukum sesuai dengan ketetapan UU di Indonesia.

Pada waktu penandatanganan surat perjanjian bangun rumah, baiknya hadirkan 2 orang saksi. Kedudukan saksi tersebut bersifat netral atau tidak memihak salah satu. Surat perjanjiannya dibikin 2 rangkap saja biar masing-masing pihak bisa menyimpannya. Pilih jasa kontraktor terpercaya, misalnya yang ada di Sejasa biar aman lahir-batin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar